Indonesia | Friday, 12 March 2010
Personal Finance
All IBTimes
Personal Finance

Bursa Rontok karena Kepanikan yang tidak Perlu

Font Scale:
Posted 12 September 2008 @ 05:55 am GMT

HARGA minyak dunia yang terus menurun hingga berada di level US$100 per barel yang dibarengi dengan penguatan mata uang dolar Amerika Serikat atas euro membuat indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkapar.

Article Tags
bursa dana dominasi inflasi

Dalam waktu dua hari saja, kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI telah menggerus indeks hingga 7,65%. Pada perdagangan saham Selasa (9/9), indeks anjlok 79,246 poin (3,09%) ke level 1.958,652. Keesokan harinya, (Rabu, 10/9), IHSG ditutup turun lagi hingga 73,709 poin (3,76%) ke level 1.885,043.

Bursa pun terus tertekan. Perdagangan bursa yang lebih banyak didominasi dana-dana asing berjangka pendek, langsung kelabakan begitu dana-dana itu keluar lagi dari Indonesia. Pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono menilai respons di pasar berlebihan saat dana asing secara besar-besaran keluar dari Indonesia dan menekan indeks serta kurs mata uang.

Bisakah bursa kita rebound? Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian kita ke depan? Berikut petikan wawancara wartawan Media Indonesia, Dwi Tupani, dengan Kepala Ekonom BNI itu:

Selama dua hari berturut-turut IHSG terperosok hingga 7,65%, apa penyebabnya?

Secara tidak langsung, penurunan indeks salah satunya dipengaruhi oleh perekonomian Amerika Serikat (AS). Saat Menteri Keuangan AS Henry Paulson mengumumkan pemerintah pengambil alih dua perusahaan sekuritisasi Fannie Mae dan Freddie Mac yang dukungan dananya mencapai US$200 miliar, jelas hal itu memperkuat confidence perekonomian di sana.

Apa akibatnya untuk emerging market, termasuk Indonesia?

Akibatnya orang memburu dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Pemilik dana pun menarik uangnya (pull out) dari pasar modal, SUN (surat utang negara), SBI (sertifikat Bank Indonesia), dan deposito di bank untuk dikonversikan ke dolar AS.

Sehingga hal itu membuat IHSG dan rupiah melemah tajam?

Ya, memang pasar modal dan kurs mata uang tertekan. IHSG turun hingga ke level 1.885,043, sedangkan kurs rupiah berada di kisaran 9.200-9.300. Mestinya boleh saja mengonversikan aset ke dolar AS, namun tidak sampai panik besar-besaran seperti sekarang. Menurut saya penurunan IHSG yang sangat dalam ini adalah kepanikan yang tidak perlu karena sebenarnya indikator makro kita baik-baik saja.

IBTimes RSS
E-Newsletters : Enter your Email for Fast News & Opinions
advertisement
Top Stories on Personal Finance
advertisement