Perang Suku Bunga Rugikan Nasabah
Perang suku bunga deposito yang ditengarai mulai terjadi pada industri perbankan dinilai justru menguntungkan investor Obligasi Negara Ritel (ORI) dan merugikan nasabah. Sementara itu, volume order ORI seri 005 hingga hari ke-9 ini naik tipis dari hari sebelumnya ke posisi Rp2,788 triliun.
"Saat ini sedang berlangsung perang bunga deposito antarbank karena banyaknya bank mengalami kesulitan likuiditas. Bunga dinaikkan untuk menarik deposan," ujar Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, Rahmat Waluyanto melalui pesan singkat kepada Media Indonesia, Rabu petang (27/8).
Sebagai contoh, lanjutnya, ada informasi bahwa beberapa bank telah menawarkan bunga sebesar 12% untuk deposito berjumlah minimal Rp5 miliar dengan tenggat waktu minimal enam bulan. Sedangkan ORI005 memiliki kupon 11,45% dengan tenor lima tahun.
"Tapi ingat tingkat bunga penjaminan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) hanya 8,75% dengan maksimal nilai simpanan Rp100 juta. Siapa yang dirugikan? Tentu nasabah bank. Jika bank kolaps, yang dijamin ya cuma Rp100 juta. Sisanya hilang," tandas Rahmat.
Naasnya, sambung dia, jika bank kesulitan likuiditas karena kredit macet, mereka akan meminta fasilitas pendanaan jangka pendek dari Bank Indonesia (BI). Ujung-ujungnya, meminta pembiayaan darurat dari APBN melalui penerbitan Surat Utang Negara (SUN).
Di lain pihak, investor ORI005 akan diuntungkan karena dalam lima tahun ke depan, suku bunga bergerak turun. Pasalnya, BI dan Pemerintah diperkirakan akan sanggup menekan laju inflasi. "Inflasi akan turun, nilai tukar menguat, bunga turun, dan imbasnya, harga SUN atau ORI akan naik," pungkasnya.
- 1 Indonesia Dapatkan Dana 70 Juta Dolar AS dari Australia
- 2 Investor Utama Indonesia Masih Jepang
- 3 OPEC Harapkan Harga Minyak 70-80 Dolar AS Per Barel
- 4 Harga Emas Naik Awal Pekan
- 5 Uni Eropa Akan Bantu Dana Keuangan Yunani
- 6 Harga BBM Shell Naik Hari Ini
- 7 Kedatangan Obama Akan Berpengaruh Baik Bagi Pasar Keuangan

















